menjadidaya tarik tersendiri bagi para konsumen MICE. Untuk mengilangkan kejenuhan mengikuti acara, pada umumnya diselingi dengan kegiatan hiburan, diantaranya pertunjukan seni dan budaya maupun mengunjungi objek wisata. • Bahasa Untuk mempermudah para konsumen MICE dalam mengikuti agenda kegiatannya, maka perlu
Covid19, kata dia, juga telah mengubah perilaku konsumen baik dalam menentukan pembelian produk/jasa kreatif maupun dalam menentukan perjalanan wisata. Dalam acara tersebut turut hadir diantaranya Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koordinator Bidang
Geografipolitik merupakan cabang dari geografi manusia, sedangkan geopolitik adalah bagian dari geografi politik. Geografi politik secara ringkas dipahami sebagai bidang ilmu dimana geopolitik adalah metode analisisnya. Oleh sebab itu, periode kemunculannya berbeda-beda. Ketahui lebih lanjut: 1. Kuus, M. 2009. Political geography and geopolitics.
RumahAdat Lingga Sebagai Daya Tarik Wisata Menurut Undang Undang Kepariwisataan nomor 10 tahun 2009, dimana daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
Sementarandapat yang dikemukakan oleh Yoeti, (1991:103), pariwisata berasal dari dua kata, yakni Pari dan Wisata. Pari dapat diartikan sebagai banyak, berkali-kali, berputar-putar atau lengkap. Sedangkan wisata dapat diartikan sebagai perjalanan atau bepergian yang dalam hal ini sinonim dengan kata ”travel” dalam bahasa Inggris.
Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. - Di tengah himpitan pandemi, semua negara saat ini mengalami krisis hampir di semua sektor, salah satu yang paling terdampak adalah sektor pariwisata. Pengajar Pariwisata Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM, Usmar Salam mengatakan saat ini kondisi pariwisata di semua negara kembali ke nol. Oleh karena itu, Usmar menganggap dari situasi ini negara-negara memiliki kesempatan yang hampir sama untuk berkompetisi dalam kancah pariwisata. Menurutnya, ada dua jalur yang diambil oleh hampir semua negara di dunia untuk membangkitkan kembali pariwisata. Yakni, membunuh Covid-19 dengan cara mematuhi protokol kesehatan dan kemudian membenahi keadaan. “Strategi yang harus kita lakukan, hampir semua negara ada dua jalur, pertama membunuh Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan, kedua membenahi. Yang dilakukan Thailand sangat bagus sekali. Kalau mau memulai dari wisatawan domestik, kembangkan destinasi yang terdekat, kembangkan Batam misalnya. Banyak hal yang bisa dilakukan dan kita lihat bersama-sama,” urainya. Hal itu disampaikan Usmar dalam Webinar Nasional Lesson Learned/Strategi Negara-Negara ASEAN dalam Memulihkan Industri Pariwisata Akibat Covid-19 dan Respon Global’ yang diselenggarakan Laboratorium Organisasi Internasional UPN “Veteran” Yogyakarta UPNVY hari ini Kamis, 15/10/2020. Usmar juga menerangkan ada empat hal yang menjadi indikator kesuksesan pariwisata. Pertama, apabila bisa menarik wisatawan asing sebanyak mungkin. “Jadi tingkat keberhasilan itu selalu dibuat dan dihitung. Setiap tahun ada laporan siapa yang juara, sekarang ini yang juara adalah pertama Prancis, kedua Spanyol, dan tetangga kita Thailand itu masuk sepuluh besar,” ungkapnya. Kedua, lanjutnya, seberapa besar wisatawan berbelanja. “Jadi saya selalu berkata kepada teman-teman di Dinas Pariwisata dan Kementerian Pariwisata, kita lebih baik menarik 1 wisatawan Jepang dari pada 5 wisatawan Cina. Mengapa? Karena belanjanya wisatawan Jepang sangat besar,” tuturnya. Ketiga, ialah seberapa lama wisatawan tersebut tinggal di negara yang menjadi destinasi. “Thailand sudah lebih tinggi dari Indonesia,” ucapnya. Terakhir, yaitu sejauh mana wisatawan itu bisa mempromosikan kembali destinasi yang pernah dikunjungi. uti Baca juga Selain Soto dan Nasi Uduk, 5 Kuliner Khas Betawi Ini juga Nikmat Disantap saat Sarapan Baca juga Segitiga Bermuda dan 24 Temuan Lain di Dunia yang Tak Bisa Dijelaskan Ilmuwan Baca juga Pecahkan Rekor, Kerangka T-Rex Ini Laku Seharga Rp 469 miliar dalam Acara Lelang
One of the most favorite tourist attraction in Yogyakarta is Malioboro. Revitalization of Malioboro has been realized by arranging three main areas, which are Alun-Alun Utara, Malioboro, and Abu Bakar Ali Parking Park. The hard work of the Government of Yogyakarta and its related parties in the early stages of this arrangement and revitalization has shown its results. Now the three areas of revitalization has been well ordered and expected to have a positive effect to increase the number of visitors in Yogyakarta. Improving the quality of public facilities, public infrastructure, and tourism facilities should be in line with the increasing satisfaction of tourists visiting the region, because the satisfaction of tourists is one of the benchmarks of the success of a tourist attraction. For that, research need to be done to measure the level of customer satisfaction on the revitalization of Malioboro area. This study aims to 1 find out the quality of public facilities, public infrastructure, and tourism facilities; 2 to know the level of satisfaction of tourists visiting in Malioboro area after revitalization. This research is descriptive research by conducting survey. Sampling method is using Accidental Sampling Method with the number of samples of 100 respondents who visited Malioboro area. Data collection techniques use questionnaires, interviews, and observations. Then the method of data analysis using Importance Performance Analysis method. The researchers hope this research can give input for local government especially Technical Implemetation Unit of Malioboro Area Management in Yogyakarta Tourism and Culture Departement, in order to improve the quality of tourist attraction in Malioboro area. Keyword Level of Tourist Satisfaction, Revitalization of MalioboroFigures - uploaded by Jussac Maulana MasjhoerAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Jussac Maulana MasjhoerContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 1 PENGUKURAN TINGKAT KEPUASAN WISATAWAN TERHADAP FASILITAS UMUM, PRASARANA UMUM, DAN FASILITAS PARIWISATA DI MALIOBORO PASCAREVITALISASI KAWASAN Oktari Susetyarini, Jussac Maulana Masjhoer Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo STIPRAM Yogyakarta Jl Ahmad Yani no. 52 Ring Road Timur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta Email oktarisusetyarini jussacmaulana ABSTRACT One of the most favorite tourist attraction in Yogyakarta is Malioboro. Revitalization of Malioboro has been realized by arranging three main areas, which are Alun-Alun Utara, Malioboro, and Abu Bakar Ali Parking Park. The hard work of the Government of Yogyakarta and its related parties in the early stages of this arrangement and revitalization has shown its results. Now the three areas of revitalization has been well ordered and expected to have a positive effect to increase the number of visitors in Yogyakarta. Improving the quality of public facilities, public infrastructure, and tourism facilities should be in line with the increasing satisfaction of tourists visiting the region, because the satisfaction of tourists is one of the benchmarks of the success of a tourist attraction. For that, research need to be done to measure the level of customer satisfaction on the revitalization of Malioboro area. This study aims to 1 find out the quality of public facilities, public infrastructure, and tourism facilities; 2 to know the level of satisfaction of tourists visiting in Malioboro area after revitalization. This research is descriptive research by conducting survey. Sampling method is using Accidental Sampling Method with the number of samples of 100 respondents who visited Malioboro area. Data collection techniques use questionnaires, interviews, and observations. Then the method of data analysis using Importance Performance Analysis method. The researchers hope this research can give input for local government especially Technical Implemetation Unit of Malioboro Area Management in Yogyakarta Tourism and Culture Departement, in order to improve the quality of tourist attraction in Malioboro area. Keyword Level of Tourist Satisfaction, Revitalization of Malioboro 1. Latar Belakang Salah satu daya tarik wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta yaitu Kawasan Malioboro. Sebagai ikon wisata, kawasan ini menjadi magnet tidak hanya bagi wisatawan akan tetapi juga masyarakat yang bergelut di bidang jasa pariwisata. Permasalahan pun bermunculan, mulai dari trotoar yang beralih fungsi menjadi lahan parkir dan lapak jualan, pedagang kaki lima yang membuang limbah sisa makanan sembarangan, lapak-lapak jualan yang tidak tertata, kemacetan jalan 2 Malioboro, dan masih banyak lagi permasalahan lainnya dan berdampak terhadap berkurangnya kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Selama ini Jalan Malioboro telah dianggap sebagai wajah atau muka Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Provinsi DIY sekaligus juga merupakan simbol filosofis Keraton Yogyakarta. Permasalahan yang terjadi di kawasan malioboro tersebut tidak dapat terus dibiarkan dan mengakar, oleh karena itu tercetus kegiatan Revitalisasi Kawasan Malioboro hasil kerjasama antara empat pihak yaitu Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Yogyakarta, PT Kereta Api, dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada Kamis, 22 Desember 2016, kawasan malioboro menampakkan wajah barunya seiring peresmian Jalan Malioboro sebagai kawasan pendestrian yang dilakukan oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Peresmian sebagai kawasan pendestrian ini merupakan tahap awal dari rangkaian rencana jangka panjang Pemerintah Daerah Provinsi DIY selama 4 tahun untuk membenahi kawasan utama Kota Yogyakarta. Revitalisasi Kawasan Malioboro telah diwujudkan dengan melakukan penataan tiga kawasan utama, yakni Alun-Alun Utara, Malioboro, dan Taman Parkir Abu Bakar Ali. Revitalisasi Alun-Alun Utara menjadi langkah pertama, dengan menghapus fungsinya sebagai lahan parkir kendaraan dan membangun Taman Parkir Ngabean sebagai pengganti area parkir kendaraan di Alun Alun Utara. Langkah selanjutnya adalah revitalisasi kawasan Malioboro dan Taman Parkir Abu Bakar Ali. Di tahap ini, Malioboro diubah menjadi area pedestrian yang aman, nyaman dan memberikan suasana lingkungan yang asri. Dalam hal ini pemerintah meningkatkan kualitas fasilitas jalur pedestrian berupa pemasangan sejumlah aplikasi street furniture, difabel guidance, pergola tempat berteduh, lampu penerangan khas Jogja, instalasi air minum portable serta dilengkapi tempat pembuangan limbah bagi PKL di sepanjang jalan Malioboro tersebut. Parkir kendaraan dialihkan ke Taman Parkir Abu Bakar Ali yang telah direvitalisasi dengan konsep lahan parkir bertingkat. Peningkatan kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata diharapkan sejalan dengan meningkatnya kepuasan wisatawan yang berkunjung di kawasan tersebut, dimana kepuasan wisatawan adalah salah satu tolak ukur keberhasilan suatu daya tarik wisata. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan terhadap revitalisasi kawasan malioboro. Diharapkan penelitian ini dapat berkontibusi dalam memberikan masukan bagi pemerintah daerah agar dapat mempertahankan maupun meningkatkan kualitas daya tarik wisata serta memperbaiki kekurangan yang masih ada di kawasan Malioboro. 3 Berdasarkan latar belakang penelitian, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata serta tingkat kepuasan wisatawan yang berkunjung di kawasan Malioboro pascarevitalisasi. Penelitian ini merupakan bentuk respon terhadap revitalisasi kawasan malioboro yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Yogyakarta. Peningkatan kualitas dan kuantitas fasilitas serta pelayanan apakah sejalan dengan meningkatnya kepuasan wisatawan yang berkunjung di kawasan tersebut. Tingkat kepuasan wisatawan yang diukur diharapkan dapat bermanfaat bagi UPT malioboro maupun pihak terkait sebagai bentuk masukan dalam menjaga serta meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata. Dari uraian pada latar belakang, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini yaitu 1. Bagaimanakah kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata di kawasan Malioboro pascarevitalisasi? 2. Bagaimanakah tingkat kepuasan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Malioboro pascarevitalisasi? 2. Landasan Empiris Landasan empiris merupakan landasan yang diambil berdasarkan penelitian terdahulu, yang memiliki kesamaan dengan penelitian ini. Penelitian-penelitian tersebut dijadikan sebagai bahan acuan dan pandangan dalam penelitian ini. Adapun penelitian terdahulu yang membahas mengenai tingkat kepuasan wisatawan adalah sebagai berikut a. Gusneli 2016, Universitas Negeri Padang, Pengaruh Fasilitas Wisata Terhadap Kepuasan Pengunjung Ke Objek Wisata Air Terjun Bayang Sani Kabupaten Pesisir Selatan. Jenis penelitian dalam penelitian ini digolongkan kepada penelitian assosiatif bentuk hubungan kausal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa fasilitas wisata mempengaruhi kepuasan pengunjung ke objek wisata Air Terjun Bayang Sani sebesar 7,3%, sedangkan 92,7% diduga dipengaruhi oleh faktor lain yang dapat mempengaruhi kepuasan pengunjung seperti harga, lokasi, daya tarik dan citra. b. Ibnu Al Taufiq 2016, Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian yang dilakukan yaitu untuk mengetahui kepuasan pengunjung terhadap fasilitas dan kualitas pelayanan rumah makan di pantai Drini. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode 4 pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kenyataan lebih rendah jika dibandingkan tingkat harapan sehingga secara keseluruhan pengunjung merasa tidak puas dengan fasilitas dan kualitas pelayanan rumah makan yang ada di pantai Drini. Berdasarkan hasil diagram kartesius fasilitas rumah makan, item yang masuk dalam prioritas utama perlu diperbaiki agar kepuasan pengunjung pada kategori tersebut dapat meningkat. Dalam kategori kualitas pelayanan, pengunjung mempermasalahkan hal yang berkaitan dengan kecepatan pelayanan, kesiapan melayani, perhatian terhadap keluhan pelanggan, informasi menu yang ditawarkan, dan kebersihan area/ lokasi tempat makan. Berdasarkan hal tersebut maka pengelola rumah makan perlu meningkatkan fasilitas dan kualitas pelayanan rumah makan yang ada di pantai Drini. c. Rizky Amaliana 2014, Universitas Gadjah Mada. Kepuasan Wisatawan Terhadap Fasilitas Wisata Di Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Pantai Prigi merupakan objek wisata yang pertama kali dikembangkan oleh pemerintah daerah, ada banyak fasilitas wisata yang telah dibangun oleh pemerintah. Sebagai tolak ukur berhasil tidaknya pembangunan fasilitas wisata salah satunya dilihat dari kepuasan wisatawan terkait hal tersebut. Untuk mengetahui bagaimana kepuasan wisatawan terhadap fasilitas wisata di Pantai Prigi maka dilakukan penelitian dengan mengambil 100 responden yang ada di Pantai Prigi untuk mengumpulkan data melalui kuesioner. Hasil dari penelitian menyatakan sebanyak 63% responden tidak puas terhadap fasilitas wisata yang ada di Pantai Prigi. Selain untuk mengetahui tingkat kepuasan wisatawan, penelitian ini juga untuk mengetahui fasilitas fasilitas mana yang sudah berjalan baik dan belum. Terdapat 2 fasilitas yang menurut responden belum berjalan dengan baik, yaitu pos keamanan dan sarana kesehatan. 3. Metode Penelitian Variabel Penelitian Untuk menjawab pokok permasalahan tentang kepuasan wisatawan terhadap kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata di Malioboro pascarevitalisasi, variabel-variabel yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah kepuasan wisatawan terhadap kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata. Adapun variabel-variabel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut 5 Tabel 1. Variabel / Indikator Kepuasan Wisatawan Terhadap Kualitas fasilitas umum dan Fasilitas Pariwisata fasilitas khusus bagi difabel difabel guidance fasilitas peristirahatan rest area kursi dan pergola tempat berteduh fasilitas pejalan kaki pedestrian lampu penerangan khas Jogja instalasi air minum portable tempat pembuangan limbah bagi PKL polisi pariwisata dan satuan tugas wisata; UPT Malioboro Metode Pengambilan Sampel Metode pengambilan sampel yang digunakan untuk mengetahui kepuasan wisatawan dalam penelitian ini adalah accidental sampling, yaitu dengan memberikan daftar pertanyaan kuesioner yang berbentuk angket pada setiap wisatawan yang mengunjungi wilayah penelitian. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 100 responden yang merupakan pengunjung kawasan Malioboro. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan pengumpulan data primer dan data sekunder, yaitu a. Data Primer Teknik pengambilan data dengan survey primer dilakukan dengan penyebaran kuesioner dan wawancara kepada para wisatawan di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Selain itu juga dilakukan observasi lapangan untuk data pendukung bagi penelitian ini. 1 Kuesioner Tipe kuesioner pada penelitian ini dipandang dari cara menjawabnya termasuk pada kuesioner tertutup, yaitu dengan memilih jawaban yang sudah disediakan. 6 Kemudian dari jawaban yang diberikan termasuk kuesioner langsung yaitu responden menjawab tentang dirinya. 2 Wawancara Tipe wawancara yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan wawancara bebas tetapi juga mengingat data apa saja yang akan dikumpulkan. Dalam melaksanakan wawancara, pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar dari hal-hal yang akan ditanyakan. Wawancara ini dilakukan pada para wisatawan di kawasan Malioboro maupun pihak-pihak yang terkait. 3 Observasi Pada penelitian ini observasi yang dilakukan adalah dengan pengamatan langsung dan dokumentasi yang mengacu pada instrumen pengamatan. Observasi di wilayah ini dilakukan untuk memperoleh data yang tidak dapat diperoleh melalui kuesioner atau pun wawancara. b. Data Sekunder Survey sekunder dilakukan untuk melengkapi data yang diperoleh dari survei primer berupa kajian literatur yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan. Kemudian dilakukan pula pengumpulan data sekunder berupa data dari instansi-instansi yang terkait dengan penelitian. Teknik Analisis Data Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan wisatawan dalam penelitian ini yaitu analisis Importance Performance Analysis IPA. Analisis IPA digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan terhadap kinerja pihak lain, dalam hal ini yaitu peningkatan kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata. Penelitian tingkat kesesuaian dan hasil penilaian kinerja maka dihasilkan suatu perhitungan berdasarkan tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan fasilitas di kawasan malioboro yang diterima. Menurut Supranto 2011 241, tingkat kesesuaian adalah hasil perbandingan skor harapan dengan skor kenyataan/ pelaksanaan, dengan rumus yang digunakan Tki = Tingkat kesesuaian responden xi = Skor penilaian kinerja pelayanan yang diterima yi = Skor penilaian kepentingan pelayanan 7 Selanjutnya sumbu mendatar x akan diisi oleh skor tingkat pelaksanaan/harapan, sedangkan sumbu tegak y diisi oleh tingkat kepentingan/ kenyataan, maka rumus untuk setiap faktor yang mempengaruhi harapan pelanggan x = Skor rata-rata tingkat pelaksanaan/ kenyataan y = Skor rata-rata tingkat harapan n = Jumlah responden Diagram Kartesius yang merupakan suatu bangun persegi empat bagian yang dibatasi oleh dua buah garis yang berpotongan tegak lurus pada titik-titik x,y di mana x merupakan rata-rata dari rata-rata skor tingkat kenyataan/ kinerja seluruh faktor atau atribut dan y adalah rata-rata dari rata-rata skor tingkat kepentingan seluruh faktor yang mempengaruhi harapan pengunjung malioboro, maka rumus selanjutnya Dimana K = Banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi harapan pelanggan. Selanjutnya tingkat unsur-unsur tersebut dijabarkan dan dibagi menjadi empat bagian kedalam diagram Kartesius Supranto, 2011 242. 8 Keterangan a. Menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap mempengaruhi kepuasan wisatawan, termasuk unsur-unsur jasa yang dianggap sangat penting, namun pengelola belum melaksanakannya sesuai dengan keinginan wisatawan sehingga mengecewakan/tidak puas. b. Menunjukkan unsur jasa pokok yang telah berhasil dilaksanakan. Untuk itu wajib dipertahankannya. Dianggap sangat penting dan sangat memuaskan. c. Menunjukkan beberapa faktor yang kurang penting pengaruhnya bagi wisatawan. Pelaksanaannya oleh pengelola biasa-biasa saja. Dianggap kurang penting dan kurang memuaskan. d. Menunjukkan faktor yang mempengaruhi pelanggan kurang penting, akan tetapi pelaksanaannya berlebihan. Dianggap kurang penting tetapi sangat memuaskan. Fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata menjadi bermanfaat apabila sesuai dengan harapan pengunjung dan pelaksanaannya dirasakan sangat sesuai terletak pada kuadran B. Dalam penelitian ini notasi y yang berarti kepentingan disesuaikan dengan kebutuhan penelitian yang berarti harapan y = harapan dan notasi x yang berarti kepuasan disesuaikan menjadi kenyataan x = kenyataan. 4. Hasil Penelitian dan Pembahasan Berikut adalah hasil dan pembahasan dalam penelitian pengukuran tingkat kepuasan wisatawan terhadap fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata di malioboro pascarevitalisasi kawasan. Hasil Penelitian Fasilitas Umum Variabel yang diteliti dalam fasilitas umum yaitu toilet umum, tempat sampah, fasilitas khusus bagi difabel difabel guidance, fasilitas peristirahatan rest area kursi dan pergola tempat berteduh, fasilitas pejalan kaki pedestrian, dan fasilitas lahan parkir. 9 Gambar 1. Diagram kartesius variabel fasilitas umum Tabel 2. Rekapitulasi Diagram Kartesius untuk Fasilitas Umum Kuadran A prioritas utama Kebersihan toilet umum A1 Kualitas air bersih A2 Penampakan fisik/ desain toilet umum A3 Pemisahan toilet untuk pria dan wanita A4 Penggolongan jenis sampah basah / kering A5 Kondisi fisik lahan parkir A19 Petugas parkir A21 Tarif parkir A23 Kuadran B pertahankan prestasi Kondisi fisik tempat sampah A6 Penampakan/ desain tempat sampah A7 Ketersediaan jumlah tempat sampah A8 Ketersediaan jalur khusus pejalan kaki difabel A9 Kondisi fisik, Kelayakan/ penampakan jalur 10 khusus pejalan kaki difabel A10 Kondisi fisik kursi dan pergola tempat berteduh A11 Ketersediaan jumlah kursi dan pergola tempat berteduh A13 Kondisi fisik trotoar A14 Kebersihan trotoar pejalan kaki A15 Penampakan/ desain lahan parkir A20 Keamanan area parkir A22 Kuadran C Prioritas rendah Jarak yang harus ditempuh wisatawan dari lahan parkir ke tempat wisata A24 Kemudahan akses wisatawan menuju tempat ibadah A27 Desain kursi dan pergola tempat berteduh A12 Fungsi / peruntukan trotoar hanya untuk pejalan kaki A16 Ornament / estetika trotoar A17 Luas lahan parkir A18 Ketersediaan tempat ibadah A25 Kebersihan tempat ibadah A26 Penampakan/ desain tempat ibadah A28 11 Prasarana Umum Variabel yang diteliti dalam prasarana fasilitas umum yaitu lampu penerangan khas jogja, instalasi air minum portabel, dan tempat pembuangan limbah bagi PKL. Gambar 2. Diagram Kartesius Variabel Prasarana Umum Tabel 3. Rekapitulasi Diagram Kartesius Untuk Prasarana Umum Kuadran A prioritas utama Ke-higienisan instalasi air minum portable B5 Fungsi instalasi air minum portabel B6 Ketersediaan pembuangan limbah bagi pedagang kaki lima B7 Penampakan pembuangan limbah pedagang kaki lima B9 Kuadran B pertahankan prestasi Kuadran C Prioritas rendah Ketersediaan Instalasi air minum portabel B4 Fungsi pembuangan limbah pedagang kaki lima B8 12 Ketersediaan lampu penerangan B1 Fungsi lampu penerangan B2 Kondisi fisik, Penampakan/ desain lampu penerangan B3 Fasilitas Pariwisata Variabel yang diteliti dalam fasilitas pariwisata yaitu Pedagang Souvenir, Satuan Tugas Wisata Malioboro, dan Pedagang Makanan PKL. Gambar 3. Diagram Kartesius Variabel Fasilitas Tabel 4. Rekapitulasi Diagram Kartesius untuk Fasilitas Pariwisata Item per variabel Pariwisata Kuadran A prioritas utama Harga makanan yang ditawarkan C5 Kebersihan tempat makan C7 Kuadran B pertahankan prestasi Harga souvenir yang dijual C1 Pelayanan penjual Souvenir C2 Pelayanan penjual warung makan C6 Utama Prestasi Rendah 13 Kuadran C Prioritas rendah Ketersediaan satuan tugas wisata UPT Malioboro C3 Fungsi satuan tugas wisata UPT Malioboro C4 Pembahasan Fasilitas Umum Tingkat kepuasan total wisatawan terhadap fasilitas umum yang terdiri dari variabel toilet umum, tempat sampah, fasilitas khusus bagi difabel, fasilitas peristirahatan rest area kursi dan pergola tempat berteduh, fasilitas pejalan kaki pedestrian, fasilitas lahan parkir, dan fasilitas tempat ibadah yaitu sebesar Harapan wisatawan berdasarkan angka tersebut masih belum terpenuhi secara maksimal. Berdasarkan diagram kartesius didapatkan informasi bahwa kinerja dari fasilitas umum yang menjadi prioritas utama kuadran A dan harus segera dibenahi yaitu kebersihan toilet umum, kualitas air bersih, penampakan fisik/ desain toilet umum, pemisahan toilet untuk pria dan wanita, penggolongan jenis sampah basah / kering, kondisi fisik lahan parkir, petugas parkir, dan tarif parkir. Kinerja item fasilitas umum yang sudah baik dan perlu dipertahankan Kuadran B yaitu kondisi fisik tempat sampah, penampakan/ desain tempat sampah, ketersediaan jumlah tempat sampah, ketersediaan jalur khusus pejalan kaki difabel, kondisi fisik, kelayakan/ penampakan jalur khusus pejalan kaki difabel, kondisi fisik kursi dan pergola tempat berteduh, ketersediaan jumlah kursi dan pergola tempat berteduh, kondisi fisik trotoar, kebersihan trotoar pejalan kaki, penampakan/ desain lahan parkir, dan keamanan area parkir. Kinerja yang memiliki prioritas rendah yaitu untuk jarak yang harus ditempuh wisatawan dari lahan parkir ke tempat wisata, dan kemudahan akses wisatawan menuju tempat ibadah. Disaat kinerja tinggi akan tetapi harapan wisatawan rendah, maka kinerja tersebut masuk dalam Kuadran D, item yang masuk dalam kuadran ini antara lain desain kursi dan pergola tempat berteduh, fungsi / peruntukan trotoar hanya untuk pejalan kaki, 14 ornament / estetika trotoar, luas lahan parkir, ketersediaan tempat ibadah, kebersihan tempat ibadah, dan penampakan/ desain tempat ibadah. Berikut ini foto yang memperlihatkan kondisi fasilitas umum di Malioboro Gambar 4. Kondisi kebersihan toilet umum Gambar 5. Toilet umum di Malioboro 15 Gambar 6. Tempat sampah di kawasan Malioboro Gambar 7. Kondisi pergola dan kursi di trotoar Jalan Malioboro 16 Gambar 8. Area parkir bus terdapat sampah berserakan Prasarana Umum Tingkat kepuasan wisatawan terhadap prasarana umum yang terdiri dari variabel lampu penerangan jalan, instalasi air minum portabel, dan pembuangan limbah pedagang kaki lima sebesar %. Harapan wisatawan berdasarkan angka tersebut masih belum terpenuhi secara maksimal. Diagram kartesius tingkat kepuasan menunjukkan bahwa aspek ke-higienisan instalasi air minum portable, fungsi instalasi air minum portable, ketersediaan pembuangan limbah bagi pedagang kaki lima, dan penampakan pembuangan limbah pedagang kaki lima menjadi prioritas utama Kuadran A untuk diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Aspek ketersediaan instalasi air minum portable, dan fungsi pembuangan limbah pedagang kaki lima menjadi prioritas rendah Kuadran C. Sedangkan untuk Kuadran D berlebihan meliputi aspek ketersediaan lampu penerangan, fungsi lampu penerangan, dan kondisi fisik, penampakan/ desain lampu penerangan. Berikut ini foto yang memperlihatkan kondisi prasarana umum di Kawasan Malioboro 17 Gambar 9. Lampu penerangan jalan di Kawasan Malioboro Gambar 10. Instalasi air minum portabel di Kawasan Malioboro 18 Fasilitas Pariwisata Tingkat kepuasan total wisatawan untuk variabel Fasilitas Pariwisata menunjukkan angka % dan masih dibawah harapan wisatawan. Kuadran B pertahankan prestasi meliputi C1 Harga souvenir yang dijual, C2 Pelayanan penjual Souvenir, C6 Pelayanan penjual PKL. Kuadran D berlebihan meliputi aspek C3 Ketersediaan UPT Malioboro dan C4 Fungsi UPT Malioboro. Sedangkan yang perlu mendapatkan perhatian lebih dan menjadi priorotas utama Kuadran A meliputi aspek C5 Harga makanan yang ditawarkan PKL dan C7 Kebersihan tempat makan PKL. Berikut foto foto yang memperlihatkan kondisi fasilitas pariwisata di Kawasan Malioboro Gambar 11. Penjual souvenir di Jalan Malioboro Gambar 12. Deretan pedagang kaki lima di sepanjang trotoar Jalan Malioboro 19 Gambar 13. Kondisi tempat cuci warung makan di Kawasan Malioboro Gambar 14. Saluran limbah terbuka menyebabkan bau tidak sedap 5. Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka Penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut 1. Secara fisik kualitas dan kuantitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata di kawasan Malioboro pasca revitalisasi mengalami peningkatan akan tetapi belum memenuhi tingkat harapan wisatawan. 2. Tingkat kepuasan wisatawan terhadap fasilitas umum sebesar prasarana umum sebesar %, dan fasilitas pariwisata %. Wisatawan tidak puas dengan fasilitas 20 umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata dikarenakan harapan wisatawan lebih besar dibandingkan kinerja Y>X. Saran Berdasarkan simpulan tersebut, peneliti dapat memberikan saran atau masukan dalam rangka meningkatkan kualitas fasilitas umum, prasarana umum, dan fasilitas pariwisata di kawasan Malioboro; 1. Pihak pengelola Kawasan Malioboro hendaknya melakukan perbaikan kinerja terhadap variabel yang memiliki tingkat harapan yang tinggi dan kinerja yang rendah untuk meningkatkan kepuasan wisatawan. Prioritas utama yang perlu ditindaklanjuti dan diperbaiki oleh pengelola kawasan malioboro untuk fasilitas umum yaitu toilet umum, tempat sampah dan tempat parkir. Prasarana umum yaitu pada instalasi air minum portabel dan pembuangan limbah PKL. Fasilitas pariwisata yaitu pada harga makanan yang ditawarkan dan kebersihan tempat makan pedagang kaki lima. 2. Perlunya pengukuran tingkat kepuasan wisatawan secara berkala untuk mengetahui kinerja pengelola kawasan wisata Malioboro 3. Meningkatkan kerjasama lintas sektor dalam mengelola kawasan malioboro, seperti Dinas Kebersihan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan SKPD terkait lainnya. 21 DAFTAR PUSTAKA Amaliana, R. 2014. Kepuasan Wisatawan Terhadap Fasilitas Wisata Di Pantai Prigi, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Sumber diunduh pada 20 Februari 2017 pukul WIB. Antarajogja. 2017. Tarif parkir bus pariwisata Yogyakarta kembali dikeluhkan. Diakses pada 25 Agustus 2017. Arikunto, S. 2002. Metodologi penelitian. Yogyakarta Bina Aksara. Fala, Muhammad Yusrul. 2014. Peran Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Kawasan Malioboro Kota Yogyakarta. Sumber Diakses pada 25 September 2017. Gusneli. 2016. Pengaruh Fasilitas Wisata Terhadap Kepuasan Pengunjung Ke Objek Wisata Air Terjun Bayang Sani Kabupaten Pesisir Selatan. Sumber diunduh pada 20 Februari 2017 pukul WIB. Kalebos, Fatmawati. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Wisatawan Yang Berkunjung Ke Daerah Wisata Kepulauan. Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen Vol 4, Edisi Khusus Pemasaran & Keuangan 2016 489-502. Kompas. 2017. Lahan Parkir Dipindah, Ada "Shuttle Bus" Gratis ke Malioboro. Diakses pada 25 Agustus 2017. Kotler, Philip dan Keller, 2002. Manajemen Pemasaran. Jakarta PT. Prenhalindo. Lupiyoadi, Rambat dan Hamdani, A. 2001. Manajemen Pemasaran Jasa. Jakarta Salemba Empat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional Tahun 2010 2025. Proyek Wisata. 2017. Saatnya Pengamen Malioboro di Tertibkan!. Diakses pada 25 Agustus 2017. Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Penerbit Alfabeta, CV. Bandung 22 Sulistiyani, E. 2010. Membangun Loyalitas Wisatawan Melalui Peningkatan Kualitas Obyek Wisata, Promosi dan Kepuasan Wisatawan di Kawasan Wisata Tawangmangu Karanganyar. Jurnal Pengembangan Humaniora. 10 3 Desember 161-165. Supranto, J. 2011. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta Rineka Cipta. Suwintari, I Gusti Ayu Eka. 2012. Kepuasan Wisatawan Terhadap Kualitas Pelayanan diunduh pada 16 Februari 2017 Taufiq, IA. 2016. Kepuasan Pengunjung Terhadap Fasilitas Dan Kualitas Pelayanan Rumah Makan Di Pantai Drini Kabupaten Gunungkidul. Sumber diunduh pada 20 Februari 2017 pukul WIB. Tempo. 2017. Patok Harga Tak Wajar, Warung Lesehan di Malioboro Ditutup Paksa. Diakses pada 25 Agustus 2017. Tjiptono, F. 2012. Service Management Mewujudkan Layanan Prima. Yogyakarta Penerbit Andi. ... Menentukan ukuran untuk menilai. Mengadakan pertemuan, pelaksanaan, mengadakan penilaian, mengadakan review secara berkala, dan pelaksanaan tahap berikutnya, berlangsung secara berulang-ulang Ningrum, 2019;Susetyarini et al., 2018. ...Anak Agung Putu SugiantiningsihI Made Adiwidya YowanaI Made YunitaI Gde Oka SaputraMonumen Nasional Taman Pujaan Bangsa TPB Margarana yang merupakan sebuah monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang tragedi Puputan Margarana, di Desa Marga, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Monumen ini seluas sembilan hektar, terbagi menjadi tiga bagian mengikuti konsep Tri Mandala yakni hulu, tengah dan hilir. Dibagian hulu utara dengan luas areal empat hektar, merupakan komplek bangunan suci yang disebut Taman Pujaan Bangsa, terdiri atas bangunan–bangunan seperti, Candi Pahlawan Margarana; berdiri megah setinggi 17 meter, dengan bentuk persegi lima. Disini terpahat secara berangkai isi surat Jawaban I Gusti Ngurah Rai Pemimpin Dewan Pejuang Bali kepada Overste Termeulen Belanda, yang menggambarkan kebesaran jiwa perjuangan dan patriotisme bangsa Indonesia umumnya dan masyarakat Bali khususnya.... This is supported by rainfall patterns and becomes an opportunity for farmers in maize planting. There are two possible for planting maize in dry land conditions [75]. Along with the sufficient rainfall factor, there is the need for a chain of purchasing maize harvests in remote areas at appropriate prices IDR 3500/kg when the survey was conducted; this encourages farmers to cultivate NSV maize. ... Peter Juma OchiengFarmers’ satisfaction with new superior varieties NSVs is a critical strategy for boosting their adoption. Out of 48 national NSV hybrids produced, only three, including Nasa-29, JH-37, and Bima-10, have been widely distributed at the farmer level. However, no studies have been carried out to establish farmers’ satisfaction of any of the three hybrid maize varieties. As a result, the main aim of this study is to establish farmers’ satisfaction of three-hybrid maize. The survey was conducted in three South Sulawesi maize production districts Bone, Gowa, and North Luwu, representing the east, west, and transitional zones. A total of 150 farmers from three districts were then deliberately chosen as respondents. Variables such as seed availability, cultivation technology, post-harvest, and product marketing were monitored during our assessment. The data were then analyzed using the importance performance analysis IPA method. The findings indicate that seed quality and quantity, disease resistance, low yield, and productivity are the variables that require intervention to improve farmer satisfaction with the superiority of the national hybrid maize NSV. The low price of seeds, the ability to grow at 15 days, the small size of the cob, ease of harvest, and the accessibility of marketing the product at the best price were then deemed adequate variables.... Kawasan Malioboro tidak terlepas dari berbagai permasalahan, antara lain penyalahgunaan fungsi trotoar menjadi lahan parkir dan lapak jualan, sampah yang dihasilkan oleh pedagang maupun masyarakat disekitar, penyempitan luasan jalan, angka kemacetan yang tinggi. Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Yogyakarta, PT Kereta Api, dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menginisiasi kegiatan Revitalisasi Kawasan Malioboro Susetyarini & Masjhoer, 2011. Setelah dilakukan upaya konservasi dikawasan heritage Malioboro, masih terdapat beberapa permasalahan yang harus diperhatikan oleh stakeholder. ...Disky Ayu Puja LasendaRahmalizaBudi UtomoAbstrak Jalan Malioboro adalah salah satu landmark yang berada di Yogyakarta dan merupakan kawasan heritage yang saat ini pelestariannya menjadi perhatian pemerintah setempat. Upaya yang dilakukan Pemerintah Yogyakarta dilakukan dengan pengesahan perundang-undangan, revitalisasi dan relokasi terhadap sektor informal. Akan tetapi penyalahgunaan fungsi Jalan Malioboro masih kerap terjadi seperti penyalahgunaan fungsi trotoar menjadi tempat berjualan, wahana wisata yang dilakukan tidak pada tempatnya, dan kemacetan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pengaruh penerapan manajemen wisata dalam pengembangan konservasi Kawasan Heritage Malioboro. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif. Analisis yang dilakukan adalah analisis kajian kebijakan dan peraturan Kawasan Heritage Malioboro, analisis nilai penting Kawasan Heritage Malioboro, analisis perencanaan Kawasan Heritage Malioboro, analisis pengembangan kawasan Konservasi Heritage Malioboro berbasis manajemen wisata atraksi, akomodasi, aksesibilitas, informasi dan promosi, serta kemitraan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah manajemen wisata berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Konservasi Heritage Malioboro terutama dalam sektor ekonomi dan sosial. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk mengatur kegiatan dan ketertiban yang ada di Kawasan Heritage Malioboro. Namun, dalam pengembangan konservasi Kawasan Heritage Malioboro masih menemukan kendala sehingga pengaplikasian manajemen pariwisata dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah perlu mengakomodir keberadaan sektor informal dalam perencanaan pembangunan daerah. Penelitian ini menjadikan manajemen wisata sebagai upaya konservasi Kawasan Heritage Malioboro yang artimya kawasan konservasi tersebut diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat akan tetapi tidak mengubah nilai histori dan kebudayaan yang dimiliki. Kata Kunci Kawasan Heritage, Konservasi, Manajemen Wisata, Malioboro.... Kawasan Malioboro tidak terlepas dari berbagai permasalahan, antara lain penyalahgunaan fungsi trotoar menjadi lahan parkir dan lapak jualan, sampah yang dihasilkan oleh pedagang maupun masyarakat disekitar, penyempitan luasan jalan, angka kemacetan yang tinggi. Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Provinsi Yogyakarta, PT Kereta Api, dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menginisiasi kegiatan Revitalisasi Kawasan Malioboro Susetyarini & Masjhoer, 2011. Setelah dilakukan upaya konservasi dikawasan heritage Malioboro, masih terdapat beberapa permasalahan yang harus diperhatikan oleh stakeholder. ...Disky Ayu Puja LasendaRahmaliza Rahmaliza Budi UtomoJalan Malioboro adalah salah satu landmark yang berada di Yogyakarta dan merupakan kawasan heritage yang saat ini pelestariannya menjadi perhatian pemerintah setempat. Upaya yang dilakukan Pemerintah Yogyakarta dilakukan dengan pengesahan perundang-undangan, revitalisasi dan relokasi terhadap sektor informal. Akan tetapi penyalahgunaan fungsi Jalan Malioboro masih kerap terjadi seperti penyalahgunaan fungsi trotoar menjadi tempat berjualan, wahana wisata yang dilakukan tidak pada tempatnya, dan kemacetan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pengaruh penerapan manajemen wisata dalam pengembangan konservasi Kawasan Heritage Malioboro. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif. Analisis yang dilakukan adalah analisis kajian kebijakan dan peraturan Kawasan Heritage Malioboro, analisis nilai penting Kawasan Heritage Malioboro, analisis perencanaan Kawasan Heritage Malioboro, analisis pengembangan kawasan Konservasi Heritage Malioboro berbasis manajemen wisata atraksi, akomodasi, aksesibilitas, informasi dan promosi, serta kemitraan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah manajemen wisata berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan Konservasi Heritage Malioboro terutama dalam sektor ekonomi dan sosial. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan mengeluarkan kebijakan untuk mengatur kegiatan dan ketertiban yang ada di Kawasan Heritage Malioboro. Namun, dalam pengembangan konservasi Kawasan Heritage Malioboro masih menemukan kendala sehingga pengaplikasian manajemen pariwisata dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah perlu mengakomodir keberadaan sektor informal dalam perencanaan pembangunan daerah. Penelitian ini menjadikan manajemen wisata sebagai upaya konservasi Kawasan Heritage Malioboro yang artimya kawasan konservasi tersebut diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat akan tetapi tidak mengubah nilai histori dan kebudayaan yang dimiliki.... Dalam hal ini puas dan tidak puasnya wisatawan berkunjung ke suatu destinasi wisata tergantung dari daya tarik wisata dan fasilitas layanan yang ada di destinasi atau sarana penunjang sangat penting untuk kebutuhan wisatawan sewaktu-waktu diperlukan, sehingga dengan tersedianya sarana penunjang akan lebih membantu memperlancar perjalanan. Sejalan dengan penelitian Susetyarini & Masjhoer 2018 peningkatan kualitas fasilitas wisata diharapkan sejalan dengan meningkatnya kepuasan wisatawan yang berkunjung ke suatu destinasi wisata, dimana kepuasan wisatawan adalah salah satu tolak ukur keberhasilan suatu daya tarik wisata. ...... Mengukur tingkat kepuasan wisatawan dapat dijadikan sebagai salah satu tolak ukur keberhasilan pengembangan pariwisata Susetyarini & Masjhoer, 2018. Segala kelebihan dan kekurangan yang telah dilakukan oleh pengelola dapat diketahui. ...This study aims to determine the satisfaction of tourists and the performance of the components of attractions, accessibility, and amenities found in the Pancoh Ecotourism Village PEV. This study uses qualitative and quantitative research mixed-method type. The research variables in this study are the attraction, accessibility, and amenities as tourism components. The population in this study is tourists who buy tour packages in PEV. The research sample was taken as many as 100 people using the Purposive Sampling method. The technique used in this study is a gradual mixed method. Data collection carried out by distributing questionnaires, interviews, and observations. This study uses phased quantitative-qualitative data first analysis was conducted using a Likert Scale, followed by an Importance-Performance Analysis, and the last one using Qualitative Analysis. Tourist satisfaction for the attraction component and accessibility in the PEV is in the Satisfied category, while the amenities component is in the Satisfied Enough category. The performance that needs to be improved is online information easiness, homestay facilities, also distinctive and diversity of the souvenirs products. The performance that needs to be maintained includes homestay rooms cleanliness, roads and signposts leading to the village, road and signs conditions in the village, rural natural conditions, and the diversity of activities that can be carried out by in the amenities component do not affect the overall satisfaction of tourists in the PEV, as long as the indicators in the attraction and accessibility components are considered RahayuMister CanderaResearch aims This study aims to develop an original model of halal tourism by considering the service quality variable and its effect on tourist loyalty with satisfaction as a mediator variable and experience quality consisting of halal food, halal facilities and services, and people at the destination as moderator This study adopts an empirical approach. Data were collected using questionnaire distributed to respondents that were selected through purposive sampling based on their previous visits to halal destinations in Indonesia. A total of 440 questionnaire responses were subjected to quantitative analysis using the Structural Equation findings Our study findings indicated that services quality was one of the factors with positive, significant impacts direct and indirect on tourist loyalty. In addition, experience quality seemed to strengthen this Contribution/Originality This research offered a novel insight that that the satisfaction and loyalty of tourists visiting halal tourism can be increased through improving experience Implications This research is expected to be a reference and consideration for halal tourism business actors in their efforts to increase visitor satisfaction where major coniderations should be put on halal accommodation and halal services. Visitor experience is an important factor to increase the number of visitors to halal Limitations/Implications The large sample size relatively complicated the timely data HabaoraJefirstson Richset Riwukore Tien YustiniThe purpose of the study was to determine and analyze the existing condition of the Lasiana Beach tourism destination in Kupang City based on attractions, accessibility, facilities, institutions, and tourism ecosystems. The research took at Lasiana Beach, Kupang City, from July – December 2019 using Research and Action Research designs and descriptive approach techniques. Determination of samples by cross-section or available samples. The data were analyzed by sorting information and descriptions of the points from the observations, interviews, and documentation carried out. The results showed that the highest tourist attraction for Lasiana Beach was for swimming and the lowest for nature schools. Most tourists complain about the accessibility to tourist destinations. However, most tourists feel that the facilities at the tourist sites are quite complete. The role of tourism institutions is considered lacking while people visit a destination because they often visit it and are invited. The tourism ecosystem still looks weak in terms of investment, policies, and tourism resources. Recommendations are diversification of attractions, improvement of the physical condition of facilities and the involution of tourist facilities, the effectiveness of marketing and promotion of tourist destinations, increasing the role of the public, and improving the accessibility of tourist WullurValen SameheThe article discusses the important and influential tourist destination attributes for foreign tourists. The study was conducted on 40 respondents who were considered experts in providing an assessment of tourist destinations in the city of Manado, Indonesia. This study uses the combination of the Importance Performance Analysis IPA approach and decision making and evaluation laboratory DEMATEL technique. The main results indicate that the attributes of cleanliness, neatness, greening, and fresh air are very important and have a significant influence on other attributes but are not satisfactory. This attribute is a critical priority that must be improved by decision makers, so that the tourist destination development program in the city of Manado becomes efficient and effective. Meanwhile, friendly community and delicious cuisine are very important attributes and have significant influence on other attributes, the performance is very satisfying for tourists, and this attribute needs to be parkir bus pariwisata Yogyakarta kembali dikeluhkanAntarajogjaAntarajogja. 2017. Tarif parkir bus pariwisata Yogyakarta kembali penelitian. Yogyakarta Bina AksaraS ArikuntoArikunto, S. 2002. Metodologi penelitian. Yogyakarta Bina Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Kawasan Malioboro Kota YogyakartaMuhammad FalaYusrulFala, Muhammad Yusrul. 2014. Peran Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Kawasan Malioboro Kota Yogyakarta. SumberPengaruh Fasilitas Wisata Terhadap Kepuasan Pengunjung Ke Objek Wisata Air Terjun Bayang Sani Kabupaten Pesisir SelatanGusneliGusneli. 2016. Pengaruh Fasilitas Wisata Terhadap Kepuasan Pengunjung Ke Objek Wisata Air Terjun Bayang Sani Kabupaten Pesisir Selatan. Sumber diunduh pada 20Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Wisatawan Yang Berkunjung Ke Daerah Wisata KepulauanFatmawati KalebosKalebos, Fatmawati. 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Wisatawan Yang Berkunjung Ke Daerah Wisata Kepulauan. Jurnal Riset Bisnis dan Manajemen Vol 4, Edisi Khusus Pemasaran & Keuangan 2016 Parkir Dipindah, Ada "Shuttle Bus" Gratis ke MalioboroKompasKompas. 2017. Lahan Parkir Dipindah, Ada "Shuttle Bus" Gratis ke Pengamen Malioboro di Tertibkan!Proyek WisataProyek Wisata. 2017. Saatnya Pengamen Malioboro di Tertibkan!.Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Penerbit Alfabeta, CV. Bandung 22SugiyonoSugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Penerbit Alfabeta, CV. Bandung 22Membangun Loyalitas Wisatawan Melalui Peningkatan Kualitas Obyek Wisata, Promosi dan Kepuasan Wisatawan di Kawasan Wisata Tawangmangu KaranganyarE SulistiyaniSulistiyani, E. 2010. Membangun Loyalitas Wisatawan Melalui Peningkatan Kualitas Obyek Wisata, Promosi dan Kepuasan Wisatawan di Kawasan Wisata Tawangmangu Karanganyar. Jurnal Pengembangan Humaniora. 10 3 Desember 161-165.
Pengertian Pariwisata Menurut terminologi pariwisata diatas dapat disimpulkan bahwa pariwisata dapat terbentuk apabila ada pelaku wisata demand yang memang mempunyai motivasi untuk melakukan perjalanan wisata, ketersediaan infrastruktur pendukung, keberadaan obyek wisata dan atraksi wisata yang didukung dengan sistem promosi dan pemasaran yang baik serta pelayanan terhadap para pelaku wisata supply. Terkait dengan Undang-undang Tahun 2009 tentang kepariwisataan, yang dimaksud pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Pengertian PariwisataPariwisata BerkelanjutanIndikator dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indicators of Sustainable Development for Tourism DestinationsPengembangan PariwisataObyek dan Daya Tarik WisataDampak PariwisataPelaku PariwisataSumber Bacaan Menurut World Tourism Organization WTO Pitana,2009 dalam Pengantar Ilmu Pariwisata, pariwisata didefinisikan sebagai kegiatan seseorang yang bepergian ke atau tinggal di suatau tempat di luar lingkungannya yang biasa dalam waktu tidak lebih dari satu tahun secara terus-menerus, untuk kesenangan, bisnis ataupun tujuan lainnya. Menurut rumusan International Union of Official Travel Organization UOTO, kini UN-WTO dalam Pitana 2009 pada tahun 1963, dimaksud dengan tourist dan excurtionist adalah sebagai berikut Wisatawan tourist yaitu pengunjung sementara yang paling sedikit tinggal selama 24 jam di negara yang dikunjunginya dengan tujuan perjalanan Pesiar, untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, studi, keagamaan dan olah raga. Keluarga, bisnis, konferensi. Pelancong excurtionists adalah pengunjung sementara yang tinggal kurang dari 24 jam di negara yang dikunjunginyatermasuk pelancong dengan kapal pesiar. Menurut Gamal 2002, pariwisata merupakan sebagai bentuk suatu proses kepergian sementara dari seorang, lebih menuju ketempat lain diluar tempat tinggalnya. Charles R. Goeldner, J. R. Brent Ritchie 2009 dalam Tourism Principles, Practices, Philosophies menyatakan bahwa setiap usaha untuk mendefinisikan pariwisata dan untuk menggambarkan ruang lingkungan sepenuhnya harus mempertimbangkan berbagai kelompok yang dipengaruhi dan berpartisipasi dalam industri ini. Perspektif mereka sangat penting bagi perkembangan suatu definisi yang komprehensif. Empat perspektif pariwisata yang berbeda dapat diidentifikasi yaitu Wisatawan yaitu orang-orang yang bertujuan mendapatkan pengalaman psikis dan fisik serta kepuasan. Sifat ini akan sangat menentukan tujuan yang dipilih untuk menikmati kegiatan. Para pelaku usaha yang menyediakan barang dan jasa wisata. Orang melihat bisnis pariwisata sebagai kesempatan untuk membuat profit dengan menyediakan barang dan jasa yang sesuai permintaan pasar pariwisata. Pemerintah daerah. Politisi melihat pariwisata sebagai faktor kekayaan dalam perekonomian yurisdiksi mereka. Perspektif mereka terkait dengan pendapatan warga mereka yang dapat diperoleh dari bisnis ini. Politisi juga mempertimbangkan penerimaan devisa dari pariiwsta internasional serta penerimaan pajak yang dikumpulkan dari pengeluaran wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pemerintah dapat memainkan peran penting dalam kebijakan pariwisata, pengembangan, promosi, dan implementasi. Masyarakat lokal yaitu masyarakat lokal yang biasanya melihat pariwisata sebagai faktor budaya dan ketenagakerjaan. Yang penting bagi kelompok ini, misalnya adalah efek dari interaksi antara sejumlah besar pengunjung internasional dan warga. Efek ini mungkin bermanfaat finansial atau berbahaya, atau keduanya. Menurut Yoeti 1992 Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lainnya, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya, tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi alat untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Pariwisata Berkelanjutan Definisi pariwisata berkelanjutan menurut World Tourism Organization menunjukkan dari adanya keserasian antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan di satu pihak mempertahankan integritas budaya, proses ekologi essensial, keanekaragaman hayati, dan sistem penunjang kebutuhan pada lain pihak. Prinsip kepariwisataan berkelanjutan menurut WTO dalam Koesnadi 2002 82 dapat dijabarkan berikut Sumber daya alam, historis, budaya, dan lain-lain untuk kepariwisataan dikonservasi untuk pemanfaatan berkesinambungan di masa depan, dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekarang. Pengembangan kepariwisataan direncanakan dan dikelola sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan masalah lingkungan dan sosio kultural yang serius di wilayah wisata. Kualitas lingkungan yang menyeluruh di wilayah wisata dipelihara dan ditingkatkan dimana diperlukan. Kepuasan wisatawan yang tinggi dipertahankan sehingga daerah tujuan wisata akan tetap memiliki daya jual dan popularitasnya. Manfaat dari kepariwisataan tersebar luas di seluruh masyarakat. Pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil, secara etika dan sosial masyarakat Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1995. Indikator dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Indicators of Sustainable Development for Tourism Destinations Menurut World Tourism Organization WTO mengembangkan indikator untuk pembangunan atau pengembangan pariwisata berkelanjutan yang merupakan bukti komitmennya untuk mendukung Agenda 21, sebagai kelanjutan dari disusunnya Agenda 21. Indikator yang dapat dipakai untuk mengukur tingkat keberlanjutan suatu destinasi wisata adalah a. Kesejahteraan well being masyarakat tuan rumah b. Terlindunginya asset-aset budaya c. Partisipasi masyarakat d. Jaminan kesehatan dan keselamatan e. Manfaat ekonomi f. Perlindungan terhadap aset alami g. Pengelolaan sumber daya alam yang langka h. Pembatasan dampak dan, i. Perencanaan dan pengendalian pembangunan Pengembangan Pariwisata Menurut Darminta 2002474 dalam Wulandari 201517 pengembangan adalah suatu proses atau cara menjadikan sesuatu menjadi maju, baik, sempurna, dan berguna. Pengembangan pariwisata menurut Pearce 1981 12 dapat didefinisikan sebagai usaha untuk melengkapi atau meningkatkan fasilitas dan pelayanan yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Hadinoto 1996, ada beberapa hal yang menentukan dalam pengembangan suatu obyek wisata diantaranya adalah 1. Atraksi Wisata Atraksi merupakan daya tarik wisatawan untuk yang diidentifikasikan sumber daya alam, sumber daya manusia, budaya, dan sebagainya perlu dikembangkan untuk menjadi atraksi wisata. Tanpa aktraksi wisata, tidak ada perisitiwa, bagian utama lain tidak akan diperlukan. 2. Promosi dan Pemasaran Promosi merupakan suatu rancangan untuk memperkenalkan atraksi wisata yang ditawarkan dan cara bagaimana atraksi dapat dikunjungi. Untuk perencanaan, promosi merupakan bagian penting. 3. Pasar Wisata Mayarakat pengirim wisata Pasar wisata merupakan bagian untuk perencanaan belum/ tidak diperlukan suatu riset lengkap dan mendalam, namun informasi mengenai trend pelaku, keinginan, kebutuhan, asal, motivasi, dan sebaganya dan wisatawan perlu dikumpulkan dari mereka yang berlibur. 4. Transportasi Pendapatan dan keinginan wisatawan adalah berbeda dengan pendapat penyuplai transportasi. Transportasi mempunyai dampak besar terhadap volume dan lokasi pengembangan pariwisata. 5. Masyarakat Penerima Wisatawan yang Menyediakan Akomodasi dan Pelayanan Jasa Pendukung Wisata fasilitas dan pelayanan. Obyek dan Daya Tarik Wisata Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 24/1979, tentang penyerahan sebagian urusan Peraturan Pemerintah dalam bidang kepariwisataan pada Daerah Tingkat I adalah sebagai berikut Obyek wisata adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya, serta sejarah bangsa dan keadaan alam yang mempunyai daya tarik wisata bagi wisatawan untuk dikunjungi. Atraksi wisata adalah semua yang diciptakan manusia berupa penyajian kebudayaan seperti tari-tarian, kesenian rakyat, upacara adat, dan lain-lain. ‘ Ada beberapa syarat teknis dalam menentukan suatu tujuan wisata atau obyek wisata yang dapat dikembangkan, yaitu Pitana,2009 Adanya obyek wisata dan daya tarik wisata yang beraneka ragam site and event attractions. • Site attraction, adalah hal-hal yang dimiliki suatu obyek wisatasejak objek tersebut sudah ada, atau daya tarik obyek wisata bersamaan dengan adanya obyek wisata tersebut. • Event attractions, adalah daya tarik yang dibuat oleh manusia. Assesibiltas, yaitu kemudahan untuk mencapai obyek wisata. Amenitas, yaitu tersedianya fasilitas-fasilitas di obyek wisata. Organisasi Tourist Organization, yaitu adanya lembaga atau badan yang mengelola obyek wisata sehingga tetap terpelihara. Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdikbud;1995;628 Sedangkan,menurut Undang-Undang No 10 tentang Kepariwisataan, obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Definisi lain menurut Yoeti 2008 daya tarik wisata merupakan obyek atau atraksi wisata apa saja yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mereka mau berkunjung ke suatu negara atau DTW Daerah Tujuan Wisata tertentu. Secara garis besar ada empat kelompok yang merupakan daya tarik bagi wisatawan datang pada suatu negara DTW Daya Tarik Wisata yaitu Natural Attractions Kelompok ini adalah pemandangan landscape, pemandangan laut seascape, pantai beaches, danau lakes, air terjun waterfall, kebun raya national park, agrowisata agrotourism, gunung berapi volcanoes termasuk bila dalam kelompok ini adalah fauna dan flora. Build Attractions Termasuk dalam kelompok ini antara lain banguna buildings dengan arsitek yang menarik, seperti rumah adat dan yang termasuk bangunan modern seperti Opera Building Sydney, Jam Gadang Bukittinggi, Taman Mini Indonesia Indah TMII. Cultural Attractions Kelompok ini antara lain peninggalan sejarah historicl building, cerita-cerita rakyat folklore, kesenian tradisional traditional dances, museum, upacara keagamaan, festival kesenian, dan semacamnya. Terdapat banyak jenis daya tarik wisata dan dibagi dalam berbagai macam sistem klasifikasi. Secara garis besar daya tarik wisata dibagi ke dalam tiga jenis Pitana, 2009 Daya tarik alam Daya tarik budaya Daya tarik buatan manusia Objek dan Daya Tarik Wisata berupa alam, budaya, tata hidup, dan lainnya yang memiliki nilai jual untuk dikunjungi ataupun dinikmati oleh wisatawan, sekaligus juga merupakan sasaran utama wisatawan dalam mengunjungi suatu daerah atau Negara. Dalam pengertian luas bahwa apa saja yang mempunyai daya tarik wisata atau menarik minat bagi wisatawan dapat disebut sebagai Objek dan Daya Tarik Wisata. Pada literatur-literatur luar negeri tidak pernah ditemukan objek wisata dan daya tarik wisata seperti yang kita kenal di Indonesia, namun mereka hanya menggunakan istilah Tourist Attraction saja, yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik untuk mengunjungi daerah tertentu, dimana Tourist Attraction itu juga merupakan salah satu unsur pokok dalam pembangunan kepariwisataan yang keberadaannya akan mendorong wisatawan untuk mengunjunginya. Objek dan Daya Tarik Wisata dapat berupa alam, budaya, tata hidup yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi atau menjadi sasaran bagi wisatawan. Hal ini juga diungkapkan oleh Drs. Oka A. Yoeti, dimana ada beberapa hal yang menjadi daya tarik bagi orang yang mengunjungi suatu daerah. Hal-hal tersebut adalah 1. Benda-benda yang tersedia di alam semesta, yang dalam istilah pariwisata disebut natural amenities. Termasuk dalam kelompok ini adalah Iklim Bentuk tanah dan pemandangan Hutan belukar Flora dan fauna Pusat kesehatan Hasil ciptaan manusia dalam istilah pariwisatanya disebut man made supply yang berupa benda-benda sejarah, kebudayaan dan keagamaan. 2. Tata hidup masyarakat way of life Membicarakan objek dan atraksi wisata baiknya dikaitkan dalam pengertian produksi dan industri pariwisata itu sendiri. Hal ini dianggap perlu karena sampai sekarang ini masih dijumpai perbedaan pendapat antara para ahli mengenai pengertian produk industri pariwisata dari satu pihak dan atraksi wisata pihak lain. Produk industri pariwisata, meliputi keseluruhan pelayanan yang diperoleh, dirasakan atau dinikmati wisatawan, semenjak ia meninggalkan rumah dimana biasanya ia tinggal, sampai kedaerah tujuan wisata yang dipilihnya dan kembali kerumah dimana ia berangkat semula, jadi objek dan atraksi wisata itu sebenarnya sudah termasuk dalam produk industri wisata karena kalau tidak, motivasi untuk berkunjung ke daerah tujuan wisata tidak ada, padahal kita yakin pada suatu daerah tujuan wisata sudah pasti ada objek dan atraksi wisata. Dan ada pula alasan wisatawan akan berkunjung ke daerah tersebut bila mereka merasakan manfaat kepuasan atau pelayanan yang diberikan. Jadi kita dapat mengatakan suatu objek wisata, bila untuk melihat objek tersebut tidak ada persiapan terlebih dahulu dimana seorang saja dapat menikmatinya tanpa bantuan orang lain, karena memang sifat objek wisata tersebut tidak dapat dipindah-pindahkan atau bersifat monumental, contohnya pemandangan alam dan bangunan bersejarah. Lain halnya dengan atraksi wisata yang apabila sesuatu itu dipersiapkan terlebih dahulu agar dapat dilihat dan wisata ini sifatnya adalah entertainment atau hiburan yang digerakkan oleh manusia seperti tari-tarian, upacara adat daan lainnya. Oleh sebab itu, perlu persiapan khusus untuk dapat menikmatinya. Dampak Pariwisata Menurut Faizun 2009 dampak pariwisata adalah perubahan-perubahan yang terjadi terhadap masyarakat sebagai komponen dalam lingkungan hidup sebelum ada kegiatan pariwisata dan sesudah ada kegiatan Cohen 1984, Dampak pariwisata terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat lokal ada 8 kelompok besar yaitu 1. Penerimaan devisa, 2. Pendapatan masyarakat, 3. Kesempatan kerja, 4. Harga, 5. Distribusi manfaat, 6. Kepemilikan dan kontrol, 7. Pembangunan umum, 8. Pendapatan pemerintah. Menurut Kusudianto 1996 bahwa suatu tempat wisata yang direncanakan dengan baik, memberikan keuntungan ekonomi yang memperbaiki taraf, kualitas dan pola hidup komunitas setempat, tetapi juga peningkatan dan pemeliharaan lingkungan yang lebih baik. Pelaku Pariwisata Wisatawan Wisatawan adalah konsumen atau pengguna produk dari yang terjadi dalam kehidupan mereka berdampak langsung pada kebutuhan wisata yang dalam hal ini permintaan wisata. Pendukung Jasa Wisata Kelompok ini adalah usaha yang tidak secara khusus menawarkan porudk dan jasa wisata tetapi seringkali bergantung kepada wisatawan sebagai pengguna jasa dan produk tersebut. Pemerintah Pemerintah mempunyai otoritas dalam pengaturan, penyediaan dan peruntukkan berbagai infrastruktur yang terkait dengan kebutuhan juga bertanggung jawab dalam menentukan arah yang dituju perjalanan wisata. Masyarakat Lokal Masyarakat lokal terutama penduduk asli yang bermukim di kawasan wisata yang menjadi salah satu peran kunci dalam pariwisata. Karena sesungguhnya merekalah yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menentukan yang akan menyediakan sebagai besar atraksi sekaligus menentukan kualitas produk wisata. Sumber Bacaan I Gede Pitana., 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta Penerbit Andi Oka A. Yoeti. 1992. Pengantar Ilmu Pariwisata, Jakarta Pradnya Paramita. Oka A. Yoeti. 2008. Ekonomi Pariwisata Introduksi, Informasi, dan Implementasi. Penerbit Kompas. Jakarta Hadinoto, Kusudianto. 1996. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata. Jakarta UI Press Faizun, Moh. 2009. Dampak Perkembangan Kawasan Wisata Pantai Kartini Terhadap Masyarakat Setempat di Kabupaten Jepara. Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang. Dwi Wulandari, 2015, “Kemenpar Rilis Lima Destinasi Wisata Kuliner Unggulan†November, Pearce, D. 1981. Tourist Development. New Zealand University of Cantenbury; miege, j . 1933. La vie touristique en savoie, revue de geographie alpine, 23, 749-817 and 1934, 24, 5-213 ; Miossec, 1976 elements pour une theorie de l’espace touristique, les cashiers du tourisme, c-36, chet, aix-en-province.
indikator daya tarik wisata menurut para ahli